Peringkat 3 Dunia, 65 Juta Warga Indonesia adalah Perokok Aktif

Selasa 30-05-2023,19:34 WIB
Editor : Arief Setyoko

Senada dengan Menkes Budi, Dr Lubna Bhatti dari WHO Indonesia membenarkan kondisi Indonesia sebagai tiga besar negara dengan konsumsi rokok terbesar di dunia.

Oleh karena itu, Indonesia mendesak memerlukan kepedulian pemerintah pusat dan daerah untuk mengambil kebijakan intervensi terhadap pengendalian konsumsi rokok.

“Rokok adalah pembunuh terbesar di dunia. Untuk itu, kita membutuhkan solusi yang menyehatkan masyarakat namun tidak merugikan petani tembakau,” terang Lubna.

ICTOH ke-8 ini digelar dengan menghadirkan sesi diskusi dengan para petani milenial yang meraup omzet Rp50-100 juta per bulan. Kegiatan akhir akan ada kunjungan ke Magelang dan Temanggung khususnya ke dua contoh pertanian alih lahan dari tembakau yang mendapatkan keuntungan lebih besar.

Nasib Pengendalian Tembakau dalam RUU Kesehatan

Dr Hermawan Saputra SKM MARS, Ketua Umum Terpilih PP IAKMI menyatakan pengendalian tembakau dan konsumsi rokok merupakan salah satu isu prioritas yang sejak lama dikawal oleh IAKMI.

Meski demikian, IAKMI menilai pentingnya mengintegrasikan pengendalian rokok dalam rumusan RUU Kesehatan Omnibus Law yang saat ini sedang dibahas oleh DPR RI.

BACA JUGA:Ingin Pahala Paling Besar? Inilah Urutan Hewan Qurban yang Disyariatkan

Menurut Dr Hermawan, perhatian pada RUU Kesehatan menjadi penting karena dengan metode omnibus law, ada lebih dari 300 pasal yang akan mempengaruhi banyak aturan sebelumnya, termasuk pengendalian tembakau.

“RUU Kesehatan ini memiliki konsekuensi terhadap pengendalian tembakau. Sehingga penting dalam pembahasan UU Kesehatan tentang kedudukan dan peran memperjuangkan pengendalian tembakau sebagai bahan dasar industri rokok. Untuk itu ada rencana disetarakan antara produk zat adiktif ini dengan psikotropika dan narkotika,” terang Hermawan.

Sebagai tuan rumah penyelenggaraan ICTOH ke-8, Rektor Universitas Muhamamdiyah Magelang (UNIMMA) Dr Lilik Andriyani SE MSi menyatakan kampusnya mendukung pengendalian rokok karena pemborosan yang diakibatkan justru mengurangi jumlah makanan bergizi dalam rumah tangga.

Sementara itu, Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz mengatakan, pandemi Covid-19 adalah pelajaran yang berharga bagi pemangku kebijakan untuk merumuskan regulasi dan aturan yang berorientasi pada kesehatan.

Dengan latar belakang sebagai seorang dokter spesialis ginjal, ia tak menampik banyak penyakit yang disebabkan oleh rokok.

"Dua penyakit yang paling banyak adalah kanker dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)," jelasnya.

Ia mengakui, Magelang belum sepenuhnya menjadi kota bebas rokok. Apalagi ada sejumlah aturan lain yang sebelumnya belum sanggup menekan konsumsi rokok.

Meski begitu, Aziz berjanji akan meningkatkan standar kesehatan masyarakat Kota Magelang dari ancaman rokok agar bebas dari jerat kemiskinan dan penyakit menahun.

Kategori :