BACA JUGA:Amal-amal Sunnah di Bulan Syakban, Satu Bulan Sebelum Ramadhan yang Banyak Dilalaikan
Intinya, hati yang bersih adalah hati yang selamat dari berbuat syirik kepada selain Allah dalam bentuk apa pun, bahkan ibadah hanya boleh untuk Allah semata, yaitu irodah (keinginan), cinta, tawakkal, inabah (kembali), tunduk, takut dan rasa harap hanya ditujukan pada Allah semata.
Kata Ibnul Qayyim, dalam kitab beliau Ighotsatul Lahfaan (1: 7). Berarti orang-orang musyrik yang sukanya melestarikan tradisi syirik, memuja kubur, senang ruwatan atau sesajenan, dan melakukan tumbal, inilah yang memiliki hati yang sakit, bahkan bisa dikata “mati”.
Membiasakan dengan Amal Shaleh
Kalau kita sudah membiasakan diri dengan amal-amal shaleh Insyallah akan dimudahkan untuk mengerjakannya di bulan Ramadhan.
Orang yang biasa shalat sunnah Rawatib, Dhuha, Qiyamul lail maka shalat-shalat tersebut akan senantiasa terjaga.
Orang yang membiasakan diri dengan puasa sunnah Senin-Kamis, Daud dan Ayyumul bidh maka ketika puasa Ramadhan tidak merasa berat.
Juga orang yang biasa sedekah, ketika bulan Ramadhan maka akan semakin termotivasi untuk memperbanyak sedekah seperti halnya yang dilakukan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikian pula, amal-amal kebaikan lainnya kalau itu sudah menjadi kebiasaan maka secara otomatis akan dikerjakan di bulan Ramadhan, bahkan lebih bersemangat untuk meningkatkannya.
BACA JUGA:3 Bekal Bulan Ramadhan yang Perlu Disiapkan Mulai Sekarang
Punya Target di Bulan Ramadhan
Orang yang mengharapkan kesempurnaan Ramadhan pastilah mempunyai target. Selama bulan Ramadhan, apa yang harus dilakukan.
Misalnya kita menargetkan bisa khatam Al Qur’an sekali maka setiap hari harus bisa menyelesaikan 1 juz.
Demikian kalau punya target khatam 2 kali maka setiap hari harus menyelesaikan 2 juz dan seterusnya.
Atau ada yang mempunyai target khatam sekali plus terjemahan dan khatam sekali plus hafal juz amma. Juga punya target ibadah-ibadah yang lain, seperti shalat tarawih, sedekah, itikaf di masjid pada 10 hari terakhir dan masih banyak yang lainnya.
4.Memiliki Ilmu tentang Fiqih Puasa