MAGELANGEKSPRES.ID - Nyadran merupakan tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut bulan suci ramadan.
Dikenal juga dengan nama Ruwahan tradisi tahunan tersebut banyak dilakukan pada sejumlah wilayah Jawa termasuk Magelang.
Untuk itu, bagaimana masyarakat Magelang dalam menyambut tradisi Nyadran?.
BACA JUGA:Generasi Z Diajak Kenal Tradisi Nyadran: Warisan Budaya yang Wajib Dilestarikan
Tradisi Nyadran di MagelangSadranan atau nyadran di Kota Sejuta Bunga ini dilakukan dalam berbagai cara.
Cara umumnya adalah dengan bebersih desa, pemakaman, serta doa dan makan bersama di area desa.
Ini mengapa sebagian wilayah Magelang juga menyebutnya sebagai "Merti Dusun" atau "Merti Desa" yang berarti kegiatan bersih-bersih makam leluhur yang telah membuka perkampungan untuk yang pertama kalinya.
BACA JUGA:Tradisi Nyadran di Bojong Borobudur, Doa untuk Arwah Leluhur
Hal itu selaras dengan kata sadran, yang bila melansir Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “Sraddha” atau keyakinan.
Maksudnya ialah upaya mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia sekaligus sebagai ajang refleksi diri dari kematian yang pasti terjadi.
Selain itu kegiatan "Bersih-bersih" ini juga dipercayai warganya agar mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan bagi warganya.
BACA JUGA:Tradisi Tahunan di Gunung Tidar, Jaga Nilai Budaya dan Religiusitas
Tradisi Nyadran di Bukit Magelang
Sebagian masyarakat Magelang memiliki cara unik disetiap menyambut sadranan.
Yaitu dengan mengadakan nyadran di sejumlah perbukitan yang konon lekat dengan sejarah.
1. Gunung Tidar
Sudah tidak asing lagi bila bukit berketinggian 503 mdpl tersebut kerap mengadakan berbagai macam tradisi.