Nyadran Perdamaian Desa Getas Temanggung, Warga Lintas Agama Bersatu Jaga Tradisi dan Alam

Jumat 16-01-2026,17:45 WIB
Reporter : Setyo Wuwuh
Editor : Nur Imron Rosadi

Menurut Agus, berdamai dengan alam sama pentingnya dengan menjaga harmoni antarmanusia.

BACA JUGA:BNN Temanggung Tes Urine Mendadak Seluruh Pegawai, Hasilnya 100 Persen Negatif Narkoba

Sosok Mbah Sukoyo dinilai layak menerima simbol penyerahan bibit pohon karena kiprahnya dalam menjaga lingkungan telah memberikan dampak ekologis hingga diakui secara nasional.

Pemakaman Gletuk, lokasi berlangsungnya Nyadran, menjadi potret nyata keberagaman di Temanggung.

Warga Dusun Krecek yang beragama Buddha serta warga Dusun Gletuk yang memeluk Islam dan Kristen berkumpul di satu makam leluhur yang sama.

Mereka bergotong royong membersihkan makam dan berdoa sesuai keyakinan masing-masing.

BACA JUGA:Ditinggal ke Ladang, Lima Rumah di Tretep Temanggung Ludes Terbakar, Kerugian Tembus Rp850 Juta

Tradisi ini berakar dari konsep Sradda, yakni penghormatan spiritual kepada leluhur.

Mbah Sukoyo menyebut Nyadran Perdamaian sebagai upaya menjaga warisan leluhur, baik sejarah, nilai kebersamaan, maupun kelestarian alam.

“Tujuannya untuk mengingat leluhur yang mewariskan kekayaan alam agar tetap terjaga untuk anak cucu. Di sini moderasi beragama sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” kata Sukoyo.

Ia juga menambahkan bahwa peran perempuan, yang diperkuat melalui pendampingan lembaga Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, menjadi pilar penting dalam menjaga perdamaian desa.

BACA JUGA:Bupati Temanggung Raih Anugerah Abyakta PWI 2026 Lewat Kiprah Jaran Kepang Menembus Dunia Internasional

Rangkaian acara ditutup dengan kenduri atau makan bersama di area pemakaman.

Warga saling berbagi hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas harmoni kehidupan, toleransi, dan alam yang tetap terjaga.

Kategori :