Meneladani Puasa Rasulullah, Melakukan Niat dalam Hati

Kamis 19-02-2026,04:00 WIB
Reporter : Abu Hammam
Editor : Abu Hammam

Melakukan Niat dalam Hati

Kita ketika niat puasa Ramadhan, kita harus meniatkan puasa itu dari malam hari. Ini wajib. Malam hari ini dari mulai terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar shadiq.

Kapan pun di malam hari itu, sudah cukup. Bisa di awal malam, bisa di tengah malam, bisa di akhir malam. Terserah. Yang penting, ada keinginan di dalam hati kita, ada kehendak di dalam hati kita di sebagian malam tersebut untuk berpuasa Ramadhan di siang harinya, sudah cukup.

Kenapa demikian? Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda,

❲ مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ ❳

"Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum datangnya fajar shadiq, maka tidak ada puasa baginya."
(HR. Abu Dawud)

Barang siapa yang belum berniat untuk berpuasa sebelum datang fajar shadiq (yaitu batas akhir malam), maka tidak ada puasa baginya.

Kata para ulama, hadits ini menjelaskan tentang puasa wajib, dan termasuk di antara puasa wajib adalah puasa Ramadhan.

BACA JUGA:Berdakwah dengan Harta, Mencontoh Cara Dakwah Rasulullah

Bagaimana dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam niat? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dahulu niat dengan hatinya, dan Beliau tidak pernah melafalkan niat itu sama sekali.

Tidak ada satu pun riwayat hadits yang menjelaskan redaksi niatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika berpuasa. Padahal Beliau setiap hari niat untuk berpuasa Ramadhan di bulan Ramadhan. Karena Beliau katakan, "Barang siapa yang tidak niat di malam hari untuk berpuasa sebelum datang fajar shadiq, maka tidak ada puasa baginya."

Berarti Beliau setiap malam melakukan ini. Tapi tidak ada satu pun riwayat dari Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam yang menjelaskan redaksi niatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah melafalkan niatnya.

Kalau pernah melafalkan, tentunya ada riwayatnya sampai ke kita. Jangankan niat yang dilafalkan, gerakan jenggotnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di dalam shalat saja, itu sampai kepada kita nukilannya, ada penjelasan tentang itu. Apalagi kalau dalam sesuatu yang lebih jelas dari itu.

Hendaklah kita teladani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam melakukan niat dengan hati dan tidak melafalkannya dengan lisan. (*)

*) Kajian Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. حفظه الله تعالى

Kategori :