Seragam Training dan Pendidikan di Tengah Jurang Sosial

Seragam Training dan Pendidikan di Tengah Jurang Sosial

Setiap pagi, di banyak sekolah di China, anak-anak melangkah masuk gerbang sekolah dengan pakaian yang sama: seragam training olahraga-IST-MAGELANG EKSPRES

Pilihan itu juga mencerminkan pandangan tentang pendidikan yang utuh belajar tidak dipisahkan dari tubuh.

Hari sekolah yang panjang menuntut kesiapan fisik dan mental sekaligus.

Senam pagi dan olahraga bukan selingan, melainkan bagian dari ritme belajar.

Murid harus siap berpikir dan bergerak dalam satu tarikan napas.

BACA JUGA:d’JeLiPat SMK Negeri 3 Magelang Curi Perhatian di Launching Jogja Fashion Week 2026

Pakaian yang membatasi gerak dianggap tidak sejalan dengan tujuan itu.

Indonesia tentu tidak berada dalam konteks yang sama kita memiliki keragaman budaya, sejarah, dan tradisi sekolah yang khas.

Namun hari ini, pendidikan kita dihadapkan pada persoalan yang semakin nyata: jurang sosial yang masuk hingga ke ruang kelas.

Perbedaan sekolah negeri dan swasta, kota dan desa, pusat dan pinggiran, tak lagi hanya soal kualitas fasilitas, tetapi juga soal simbol dan citra sosial.

BACA JUGA:Membangun Personal Branding Melalui LinkedIn, Seberapa Pentingnya Bagi Dunia Kerja?

Di banyak sekolah, terutama di perkotaan, anak-anak sejak dini belajar membaca kelas sosial—bukan dari buku pelajaran, melainkan dari penampilan.

Seragam yang seharusnya menyamakan justru kerap menjadi medium pembeda: kualitas kain, atribut tambahan, hingga perlengkapan penunjang.

Sekolah tanpa sadar menjadi ruang pertama tempat anak berlatih membandingkan diri dan merasa “kurang” atau “lebih” dari yang lain.

Dalam konteks ketimpangan yang masih kuat—akses pendidikan yang belum merata, biaya sekolah yang membebani, dan mobilitas sosial yang tersendat—praktik simbolik seperti ini tidak bisa dianggap sepele.

BACA JUGA:Ketika AI Mulai Mengatur Hidup Kita: Di Mana Batas Etika Pengambilan Keputusan?

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: magelang ekspres