Seragam Training dan Pendidikan di Tengah Jurang Sosial
Setiap pagi, di banyak sekolah di China, anak-anak melangkah masuk gerbang sekolah dengan pakaian yang sama: seragam training olahraga-IST-MAGELANG EKSPRES
Ketika kesetaraan hanya diajarkan sebagai konsep, sementara pengalaman sehari-hari anak justru memproduksi jarak sosial, pendidikan kehilangan fungsi etiknya.
Ini bukan soal meniru China atau mengganti seragam dengan training olahraga.
Pertanyaannya lebih mendasar: apa pesan yang ingin kita sampaikan lewat praktik pendidikan sehari-hari? Seragam bukan kain netral. Ia adalah kurikulum yang melekat di tubuh.
Ia mengajarkan nilai bahkan ketika kita tidak menyadarinya.
BACA JUGA:26 Kepala SMK Ikuti Diklat Pembelajaran Mendalam di Lokus SMKN 3 Magelang
Jika pendidikan ingin menjadi alat pemutus rantai ketimpangan, maka ia harus berani memeriksa ulang hal-hal yang selama ini dianggap teknis dan remeh.
Kesetaraan sosial tidak cukup diajarkan lewat pasal dan slogan.
Ia harus dihadirkan dalam pengalaman konkret yang dialami anak-anak setiap hari di sekolah.
Sebab masa depan bangsa sering kali tidak dibentuk oleh kebijakan besar yang gemuruh, melainkan oleh keputusan-keputusan kecil yang konsisten—yang menentukan apakah sekolah menjadi ruang pemerdekaan, atau justru tempat pertama anak-anak belajar menerima ketimpangan sebagai sesuatu yang wajar.
Ditulis oleh Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: magelang ekspres