Seragam Training dan Pendidikan di Tengah Jurang Sosial
Setiap pagi, di banyak sekolah di China, anak-anak melangkah masuk gerbang sekolah dengan pakaian yang sama: seragam training olahraga-IST-MAGELANG EKSPRES
MAGELANGEKSPRES.ID - Setiap pagi, di banyak sekolah di China, anak-anak melangkah masuk gerbang sekolah dengan pakaian yang sama: seragam training olahraga.
Pemandangan itu sering dianggap sederhana, bahkan kaku.
Namun di balik kesederhanaannya, terdapat sebuah pilihan pendidikan yang bekerja secara diam-diam—membentuk cara anak memandang diri dan orang lain sejak usia dini.
BACA JUGA:China dan Malaysia Akan Investasi di Jawa Tengah, Total Senilai 62,3 Triliun
Seragam itu bukan urusan selera. Ia adalah keputusan nilai.
Negara menempatkan sekolah sebagai ruang jeda dari dunia luar yang penuh perbedaan kelas.
Di dalamnya, latar belakang ekonomi dipaksa tidak berbicara.
Anak-anak hadir sebagai murid, bukan sebagai representasi kemampuan beli keluarganya.
China memahami bahwa ketimpangan sosial jarang tumbuh tiba-tiba.
Ia tumbuh pelan, lewat simbol-simbol kecil yang dinormalisasi: sepatu, tas, merek pakaian, potongan seragam.
Maka yang dikendalikan bukan hanya perilaku, tetapi juga simbol.
Seragam training menjadi pagar sunyi agar anak-anak tidak belajar membandingkan diri terlalu dini—sebelum mereka cukup matang memahami struktur sosial secara kritis.
BACA JUGA:Dinas Pendidikan Minta Guru di Kota Magelang Bijak Sikapi Wacana PPPK Karyawan MBG
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: magelang ekspres