Kemarau Basah, Ancam Gagal Panen Petani di Magelang

Kemarau Basah, Ancam Gagal Panen Petani di Magelang

KEMARAU BASAH. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Romza Ernawan saat ditemui diruangannya, belum lama ini.-HENI AGUSNINGTYAS-MAGELANG EKSPRES

MUNGKID, MAGELANGEKSPRES.ID - Fenomena kemarau basah yang melanda Indonesia tak terkecuali di Magelang bukan sekadar soal cuaca yang tak menentu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan, kondisi ini berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional, khususnya di kawasan lumbung pangan seperti Jawa dan Nusa Tenggara.

Kemarau basah terjadi saat curah hujan masih cukup tinggi di tengah periode yang seharusnya kering, yakni antara Mei hingga September.

BACA JUGA:Kemarau Basah, Petani di Borobudur Magelang Enggan Tanam Tembakau

Ketidaksesuaian pola cuaca ini dinilai dapat memengaruhi siklus tanam dan panen petani.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Romza Ernawan menyebut hujan berkepanjangan di musim kemarau menyebabkan genangan air di lahan Pertanian.

Kondisi ini jelas akan menyebabkan kerugian bagi petani sehingga akan berdampak pada nilai ekonomi yang menyebabkan ketahanan pangan terganggu.

BACA JUGA:Meski Memasuki Musim Kemarau Basah, Petani Tembakau Tetap Optimis

"Proses pengolahan tanah terganggu, waktu tanam mundur, dan pemupukan menjadi tidak optimal karena unsur hara tercuci oleh air. Dalam kondisi lembab, organisme pengganggu tanaman (OPT) pun seperti berkembang pesat. Begitu juga penyakit tanaman seperti busuk batang dan antraknosa," jelas Romza saat ditemu diruang kerjanya, belum lama ini.

Genangan air di lahan pertanian mengganggu proses tanam dan panen, membuat tanah sulit diolah, dan memperpanjang waktu tanam.

Lebih dari itu, kelembapan  yang tinggi meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit tanaman.

BACA JUGA:Bupati Magelang Minta Ketersediaan Pupuk dan Air di Sektor Pertanian Tertangani dengan Baik

Selain itu, hujan yang datang tak menentu membuat pupuk dan pestisida menjadi kurang efektif.

Akibatnya, petani harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mempertahankan produksi, sementara hasil yang didapat belum tentu sesuai harapan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: magelang ekspres

Berita Terkait