MAGELANGEKSPRES.ID - Tidak semua manusia tumbuh dalam ketenangan yang sama.
Sebagian dibesarkan oleh satu tempat yang menetap, sebagian lain oleh perjalanan yang tak pernah benar-benar berhenti.
Dalam kehidupan Prabowo Subianto, yang bekerja sejak awal bukanlah kemapanan, melainkan perpindahan.
BACA JUGA:Di WEF Davos, Presiden Prabowo Umumkan Indonesia sebagai Kekuatan Baru Pangan Dunia
Hidup menempatkannya dalam perubahan terus-menerus, memaksanya memahami dunia lebih cepat, sebelum usia memberi cukup waktu untuk ragu.
Sejak kecil, Prabowo mengikuti irama hidup ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo, seorang ekonom dan pemikir yang hidupnya kerap bersinggungan dengan kekuasaan—kadang berada di pusatnya, kadang di luarnya.
Perpindahan dari Jakarta ke berbagai kota di luar negeri membuat masa kecil Prabowo jauh dari rasa menetap.
Sekolah berganti, lingkungan berubah, dan dunia datang tanpa janji kenyamanan.
Dalam situasi seperti ini, seorang anak belajar lebih awal bahwa hidup tidak selalu memberi waktu untuk bersiap.
Dari pengalaman itu tumbuh kebiasaan membaca keadaan dan mengambil sikap.
Ketegasan lahir bukan karena keinginan mendominasi, melainkan karena perubahan yang terlalu cepat sering menghukum keraguan.
Dunia yang terus bergerak menuntut kejelasan bukan kesempurnaan, tetapi keberanian memilih.
Di rumah, Prabowo menyaksikan ayahnya hidup bersama gagasan.