Prabowo Dibentuk Proses, Bukan Kekuasaan

Kamis 05-02-2026,17:00 WIB
Reporter : Heni Agusningtyas & Azis S
Editor : Arief Setyoko

Kepemimpinan di sana tidak dibentuk oleh kata-kata, tetapi oleh tindakan dan akibatnya.

BACA JUGA:Akal Budi sebagai Fondasi Bangsa: Dari Pelajaran Jepang ke Ikhtiar Indonesia

Kesalahan tidak bersifat abstrak; ia langsung terasa seperti dalam lingkungan seperti ini, keberanian mengambil keputusan menjadi kebutuhan, bukan pilihan.

Namun kepemimpinan tidak berhenti pada ketegasan. Saat bergerak ke ruang sipil, tantangannya berubah.

Perintah tidak lagi cukup. Kepemimpinan harus dibangun lewat kepercayaan, dialog, dan kesediaan mendengar.

Ketegasan tetap diperlukan, tetapi harus berjalan bersama kesabaran.

BACA JUGA:Jangan Terlewat, BRI Buka Rekrutmen BFLP Specialist 2026 Siapkan Talenta Muda Profesional Masa Depan

Disiplin bertemu keberagaman, dan keputusan menuntut legitimasi, bukan sekadar kepatuhan.

Negara, pada akhirnya, berdiri di antara dua kebutuhan: ketertiban dan kebebasan. Tanpa ketertiban, ia rapuh.

Tanpa kebebasan, ia kehilangan jiwa. Kepemimpinan negara menuntut keseimbangan—ketegasan yang tidak membungkam dan kebijaksanaan yang tidak ragu mengambil sikap.

Keseimbangan ini tidak lahir tiba-tiba; ia tumbuh dari perjalanan panjang menghadapi tekanan dan tanggung jawab yang berbeda-beda.

BACA JUGA:Tanggap Bencana Longsor Cisarua Kabupaten Bandung, BRI Peduli Salurkan Bantuan Bagi Warga Terdampak

Ketika kekuasaan akhirnya datang, ia tidak mengubah manusia. Ia hanya memperjelas watak yang sudah ada.

Kekuasaan bukan alat pembentuk karakter, melainkan cermin pembesar.

Ia menunjukkan apakah seseorang terbiasa hidup dalam tekanan, sanggup menanggung akibat dari pilihannya, dan memahami tanggung jawab sebagai beban, bukan keistimewaan.

Pelajarannya sederhana dan dekat dengan pengalaman banyak orang: kepemimpinan tidak lahir dari jabatan, melainkan dari proses panjang menghadapi perubahan, risiko, dan keputusan sulit.

Kategori :