Prabowo Dibentuk Proses, Bukan Kekuasaan

Kamis 05-02-2026,17:00 WIB
Reporter : Heni Agusningtyas & Azis S
Editor : Arief Setyoko

Ia juga melihat bagaimana gagasan tidak selalu diterima dengan ramah oleh kekuasaan.

Dari sana tertanam pemahaman sederhana namun menentukan: berpikir dan bersikap memiliki harga.

BACA JUGA:Presiden Prabowo Umumkan Swasembada Pangan, Indonesia Ulang Sejarah Kejayaan

Kebenaran tidak selalu datang bersama tepuk tangan.

Pengalaman ini membentuk sikap yang tidak mudah silau pada kekuasaan, tetapi juga tidak memusuhinya secara membuta.

Dari ibunya, Dora Marie Sigar, datang nilai yang lebih membumi.

Kejujuran, keberanian, dan keterbukaan tidak diperlakukan sebagai slogan, melainkan sebagai kebiasaan.

BACA JUGA:Kian Diminati, Pengguna BRImo Capai 45,9 Juta User dengan Transaksi Tembus Rp7.057 Triliun Sepanjang 2025

Berbicara apa adanya, berdiri pada pilihan, dan menerima konsekuensi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sikap lugas yang kelak sering terlihat pada Prabowo bukanlah hasil perhitungan politik, melainkan watak yang tumbuh dari rumah.

Kesadaran tentang urusan publik juga hadir secara halus melalui keluarga.

Nama kakeknya, Margono Djojohadikusumo, tidak muncul sebagai pengajar teori negara, tetapi sebagai ingatan tentang generasi yang pernah mengambil pilihan sulit di ruang publik.

BACA JUGA:Dari Banyuwangi ke Pasar Lebih Luas, Petani Buah Naga Naik Kelas Berkat Program Klasterku Hidupku BRI

Dari cerita-cerita keluarga itu tumbuh pemahaman bahwa keterlibatan dalam urusan bersama tidak pernah ringan, dan bahwa tanggung jawab sering datang tanpa jaminan penghargaan.

Ketika kemudian Prabowo Subianto memilih jalan militer, keputusan itu terasa masuk akal.

Militer menawarkan kejelasan dalam hidup yang sejak awal penuh perubahan: peran jelas, disiplin tegas, dan tanggung jawab nyata.

Kategori :