Program Makan Bergizi Gratis Dilihat dari Teori Etika Bisnis

Program Makan Bergizi Gratis Dilihat dari Teori Etika Bisnis

Realisasi program makan bergizi gratis kampanye Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia-BUONO AJI SANTOSO-DOKUMEN

Mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas, pendistribusian MBG yang merata dan tepat sasaran menjadi salah satu tantangan dalam pengimplementasian program ini.

Untuk memitigasi hal tersebut, Pemerintahan Prabowo – Gibran menunjuk Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai koordinator pelaksana dari program MBG.

BACA JUGA:Ini Tujuan Utama Program Makan Siang dan Susu Gratis Prabowo-Gibran

Terkait dengan metode pendistribusian, BGN menetapkan tiga skema yaitu membangun dapur pusat, membangun dapur di sekolah atau pesantren, dan melayani di daerah terpencil yang sulit terjangkau.

Dalam pelaksanaannya nanti, pemerintah pasti akan melibatkan berbagai pihak.

Misalnya saja pihak penyedia bahan baku makanan ataupun pihak yang memproduksi makanan.

BACA JUGA:Ini Alasan Kuat Presiden Prabowo Bawa Menteri dan Kabinetnya ke Akmil Magelang

Pihak yang ditunjuk untuk terlibat tersebut sudah seharusnya memiliki komitmen dan bertanggung jawab untuk melaksanakan kepercayaan yang diberikan penuh dengan etika.

Teori Etika Kebajikan (Virtue Ethics) Aristoteles

Berbicara terkait etika, terdapat teori Etika Kebajikan (virtue ethics) yang dikemukakan oleh Aristoteles.

Teori ini bukan merupakan teori kontemporer tetapi tergolong teori etika paling awal, karena sudah berusia lebih dari 2000 tahun.

Teori Etika Kebajikan menjelaskan bahwa sifat – sifat karakter yang baik atau kebajikan diperlukan untuk menjadi orang yang beretika.

BACA JUGA:Ternyata Ini Tujuan Diadakannya Retreat Kabinet Merah Putih yang Diselenggarakan Presiden Prabowo!

Jadi, seharusnya setiap pihak yang nanti dipilih untuk terlibat dalam program MBG adalah orang – orang yang beretika yaitu orang yang baik secara moral, karakter dan tidak memiliki catatan hukum.

Lalu Bagaimana untuk Mengambil Keputusan yang Etis?

James Rest dalam bukunya yang berjudul “Moral Development: Advances in Research and Theory" menjelaskan bahwa dalam mengambil suatu keputusan etika setiap orang akan melalui empat tahap yaitu kesadaran, penilaian, niat, dan perilaku etika.

BACA JUGA:Siswa SD Kedungsari 5 Makan Bersama ‘Kembul Bujono Skadema’, yang Tidak Suka Sayur Menjadi Gemar

Tahap pertama adalah kesadaran (Awareness)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: